Rabu, 22 Agustus 2012

Kisah Putra Raja dan Cincin Permata


Mengabarkan kepadaku Muhammad bin Al Husain aku mendengar Abu Bakar bin Abi Thayyib berkata, telah sampai kepadaku dari Abdullah bin Faraj (beliau seorang ahli ibadah) yang berkata: Aku membutuhkan seorang kuli yang akan bekerja untukku, maka aku pergi ke pasar melihat-lihat kuli.

Tiba-tiba di bagian akhir aku melihat seorang remaja berkulit kuning langsat tangannya membawa bungkusan besar. Dia lewat dengan mengenakan jubah serta kain dari bulu domba kasar.

Aku berkata padanya, “Kamu mau kerja juga?”

Dia menjawab, “Iya.”

Aku katakan, “Berapa upah yang kamu minta?”

Dia menjawab, “Satu dirham dan satu daniq (total tujuh daniq).”

Aku katakan, “Berdirilah, dan bekerja padaku.”

Dia berkata, “Dengan satu syarat.”

Aku katakan, “Apa itu?”

Dia menjawab, “Jika telah datang waktu dzuhur aku akan keluar wudhu shalat kemudian kembali bekerja, dan jika datang waktu asar demikian pula.”

Aku katakan, “Ya.”

Kemudian ia mengikuti aku sampai rumah dan aku perintahkan untuk mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lain. Ia pun mengencangkan tali pinggang dan bekerja serta tidak berbicara sepatah kata pun sampai tiba waktu dzuhur dan berkata kepadaku, “Wahai Abdullah, muadzin telah mengumandangkan adzan dzuhur.”

Aku menjawab, “Terserah engkau saja.”

Kemudian dia keluar shalat dan kembali bekerja dengan giat sampai ketika telah tiba waktu asar, ia berkata lagi kepadaku, “Wahai Abdullah, muadzin telah mengumandangkan adzan asar.”

Aku menjawab, “Terserah engkau saja.”

Kemudian ia keluar shalat asar dan kembali bekerja sampai senja hari. Aku pun memberikan upahnya dan ia bergegas pulang.

Sampai setelah beberapa hari setelahnya aku membutuhkan kuli kembali, maka istriku berkata kepadaku, “Suruh saja kuli muda yang kemarin itu, karena ia bekerja dengan sangat bagus!”

Aku pun mendatangi pasar akan tetapi aku tidak melihat remaja itu. Lantas aku bertanya pada orang-orang dan mereka menjawab, “Kamu bertanya tentang remaja kuning langsat yang tidak muncul kecuali pada hari sabtu saja dan ia senantiasa duduk sendirian di bagian belakang.”

Aku pun pulang dan kembali ke pasar pada hari sabtu, aku mendapatinya dan bertanya kepadanya, “Kamu mau bekerja lagi?”

Dia menjawab, “Kamu telah mengetahui upah serta syarat yang aku ajukan.”

Aku berkata, “Aku memohon petunjuk Allah.”

Ia pun bangkit dan bekerja dengan baik sebagaimana waktu yang lalu. Ketika ia telah selesai dari pekerjaannya, aku memberikan upah dan menambahinya, akan tetapi ia tidak mau menerima tambahan upah tersebut. Aku pun membujuknya agar mau menerimanya. Akan tetapi ia justru marah dan meninggalkanku sendirian.

Aku merasa sedih karenanya dan berusaha menyusulnya. Aku berhasil menyusulnya dan membujuknya, akhirnya ia mau mengambil upahnya saja dengan tanpa tambahan.

Setelah berlalu beberapa waktu lamanya, aku membutuhkan kuli lagi, maka aku menunggu sampai tiba hari sabtu, akan tetapi aku tidak mendapati remaja tadi di pasar. Aku lantas bertanya pada orang-orang tentang keadaannya. Dikatakan kepadaku bahwa remaja itu sakit.

Ada seseorang yang memberikan kabar mengenai keadaan remaja tadi bahwa ia bekerja dari hari sabtu ke hari sabtu yang lain, dan ia makan setiap harinya dengan satu daniq dan ia sekarang sakit (maknanya ia hanya bekerja satu hari saja dan mendapatkan tujuh daniq, setiap harinya ia gunakan satu daniq untuk makan, sisa hari yang lain yakni 6 hari ia gunakan untuk belajar agama).

Aku pun bertanya tentang lokasi rumahnya dan mendatanginya, rupanya ia tinggal di rumah seorang nenek tua. Aku bertanya pada nenek tadi, “Apakah di sini tinggal seorang remaja yang bekerja sebagai kuli?”

Nenek tua tadi menjawab, “Ia sakit sejak beberapa hari yang lalu.”

Aku kemudian masuk menemuinya, ia benar-benar sakit dan di bawah kepalanya terdapat batu bata sebagai bantal. Aku mengucapkan salam padanya dan berkata, “Apakah engkau membutuhkan bantuan?”

Ia menjawab, “Iya, jika tidak merepotkanmu.”

Aku berkata, “Tidak merepotkan insya Allah.”

Ia berkata, “Apabila aku mati nanti maka juallah ini, dan cucilah jubahku serta kain bulu kambing ini kemudian kafanilah aku dengannya! Bukalah saku jubahku karena di dalamnya ada sebuah cincin, ambillah cincin itu kemudian perhatikanlah kapan Harun Ar Rasyid lewat di suatu jalan, dan berdirilah di lokasi yang memungkinkan bagi dia untuk melihatmu. Panggilah ia dan perlihatkan cincin itu maka ia akan memanggilmu. Setelah itu serahkanlah cincin itu kepadanya! Dan jangan kamu melakukan semua ini kecuali setelah aku mati.”

Aku menjawab, “Ya.”

Setelah ia meninggal dunia aku melaksanakan apa yang ia perintahkan, dan aku memperhatikan hari di mana Harun Ar Rasyid lewat di suatu jalan. Aku pun duduk di pinggir jalan, ketika ia lewat aku memanggilnya, “Wahai amirul mukminin aku memiliki titipan untuk engkau”, sambil aku memperlihatkan cincin permata.

Ia pun memerintahkan untuk membawaku bersamanya, ketika ia memasuki rumahnya ia menyuruh orang yang bersamanya agar keluar lantas bertanya kepadaku, “Siapa engkau ini?”

Aku menjawab, “Abdullah bin Al Faraj.”

Ia bertanya lagi, “Cincin ini dari mana engkau mendapatkannya?”

Kemudian aku menceritakan kisah remaja yang aku temui. Tiba-tiba ia berlinangan air mata dan menangis terisak-isak sampai aku merasa iba kepadanya.

Setelah ia agak tenang aku bertanya kepadanya, “Wahai amirul mukminin, siapakah remaja itu sebenarnya?”

Ia menjawab, “Ia adalah anakku.”

Aku bertanya kembali, “Bagaimana hal ini bisa terjadi?”

Ia menjawab, “Ia dilahirkan sebelum aku menjabat sebagai khalifah, dan ia tumbuh menjadi anak yang shalih, ia menghafal al Qur’an dan mempelajari ilmu syar’i. Ketika aku diangkat menjadi khalifah ia meninggalkan aku dan tidak mau menikmati harta dunia yang aku miliki sedikit pun juga. Maka aku menyerahkan cincin ini kepada ibunya, ia adalah permata yang sangat mahal harganya. Aku berkata kepada ibunya, serahkan cincin ini kepada anak kita dan mintalah agar ia membawanya agar ia bisa memanfaatkannya suatu hari kelak. Ia adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Semenjak ibunya meninggal aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya kecuali kabar yang telah engkau sampaikan kepadaku.”

Kemudian Harun Ar Rasyid berkata lagi kepadaku, “Malam ini keluarlah bersamaku menuju kuburan anakku.”

Ketika malam telah tiba ia keluar bersamaku menuju kuburan anaknya, manakala kami sampai di kuburan anaknya ia duduk di samping kuburan dan menangis terisak-isak, sampai ketika fajar telah terbit kami bangun dan kembali lagi.

Harun Ar Rasyid berkata kembali, “Berjanjilah kepadaku untuk senantiasa menemaniku setiap malam untuk berziarah ke kuburan anakku!”

Aku pun berjanji untuk senantiasa menemaninya berziarah setiap malam.

Berkata Abdullah bin Al Faraj, “Aku sungguh tidak mengetahui bahwa remaja itu anak khalifah sampai Harun Ar Rasyid memberitahuku.”

Berkata Abu Bakar Muhammad bin Al Husain, “Dan sungguh telah mengabarkan kepadaku Abu Abdillah bin Mikhlad Al Athar tentang berita Abdullah bin Al Faraj di dalamnya disebutkan riwayat ini dan disebutkan pula bahwa Harun Ar Rasyid kemudian menawarkan harta yang sangat banyak kepadanya akan tetapi ia menolaknya.

Abu Bakar juga mengatakan bahwa ketika Abdullah bin Al Faraj meninggal dunia istrinya tidak memberitahukan kematiannya kepada saudara-saudaranya Abdullah yang duduk-duduk di depan pintu menunggu untuk diijinkan masuk rumah. Kemudian ia memandikannya dan mengkafaninya dengan kain kisa’ miliknya lalu menuju pintu dan menutup dirinya lalu mengatakan kepada saudara-saudara Abdullah, “Abdullah telah mati dan aku telah selesai dari menyipkan jenazahnya.”

Saudara-saudaranya lantas masuk dan membawa jenazahnya menuju kuburan dan istrinya menutup pintu dari belakang mereka. (Saudara-saudara Abdullah tidak bisa melihat istri Abdullah).

[Dialihbahasakan secara bebas oleh Abul Aswad Al-Bayaty dari Ghuroba’ minal Mukminin: 41 karya Al Imam Al Aajurry rahimahullahu ta’ala, Maktabah Syamilah]



Beasiswa DataPrint

Assalamu`alaikum... How are you, Brother and Sister?
Ada info menarik niyh...
Tahun ini, DataPrint kembali membuka program beasiswa bagi 700 orang pelajar dan mahasiswa. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.
Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu di sini!
PERIODE
JUMLAH PENERIMA BEASISWA
@ Rp 1.000.000
@ Rp 500.000
@ Rp 250.000
Periode 1
50 orang
50 orang
250 orang
Periode 2
50 orang
50 orang
250 orang

Persyaratan Umum:
1.  Pelajar/mahasiswa aktif dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi untuk jenjang D3/S1
2.  Terlibat aktif di kegiatan atau organisasi sekolah/perguruan tinggi
3.  Tidak terlibat narkoba atau pernah melakukan tindak kriminal
4. Tidak sedang menerima beasiswa dari perusahaan lain. Jika saat ini peserta masih menerima beasiswa dari kampus, peserta berhak mengikuti pendaftaran beasiswa dari DataPrint.

Peraturan Lomba :
1.  Mengisi formulir registrasi di kolom Pendaftaran
2. Satu nomor kupon yang terdapat di dalam produk DataPrint, hanya berlaku untuk satu kali registrasi
3.  Pendaftaran tidak dipungut biaya
4.  ...............................
Untuk info selengkapnya silahkan buka peraturan beasiswa data print

Naahhh, jika anda menang maka anda akan menyediakan ini :

Syarat & ketentuan penerimaan hadiah:
- tulis nama, no telpon yang bisa dihubungi, email dan nominal hadiah
- fotokopi kartu pelajar/ kartu tanda mahasiswa
- fotokopi raport / transkrip nilai
- fotokopi sertifikat / piagam seperti yang ditulis di formulir pendaftaran
- kupon asli
- fotokopi buku rekening yang memuat nama dan no rekening (bukan fotokopi buku tabungan secara keseluruhan)
- jika menggunakan rekening orang tua, harap sertakan fotokopi akta kelahiran peserta
- jika menggunakan rekening saudara atau teman, sertakan surat kuasa bermaterai

Untuk lebih jelasnya tentang itu, silahkan buka syarat penerimaan beasiswa
Oke, Teman-teman... silahkan kunjungi juga:  website DataPrint www.dataprint.co.id , page Facebook DataPrint www.dataprint.co.id/facebook dan www.beasiswadataprint.com .

Ayo... Fastabiqul khairat, teman-teman...! J
You`re what you think. If you think that you can, you can!.

Di Sudut Bilalang, Lahir Para Generasi Qur`ani


Aku malu. Sungguh aku malu pada diriku sendiri. Apa kehebatanmu sehingga harus membuatmu berbangga diri, hah?. Seberapa pantaskah kau tuk ku banggakan?. Sungguh aku malu.
Ramadhan adalah bulan istimewa. Selalu memiliki kesan istimewa bagiku. Seperti Ramadhan-ramadhan yang telah lalu, demikian pula dengan Ramadhan tahun ini. Masjid Babul Haq, masjid kesayanganku, semakin indah. Baru saja direnovasi, sekarang sudah berlantai dua. Temboknya dicat krem, kesannya kayak di Tahfizh, salah satu pondok penghafal Al-Qur`an yang pernah ku tempati menginap. Kami (makmum yang perempuan) shalat di lantai dua. Dan ada yang lebih istimewa, imamnya itu loh. Imamnya hafizh 30 juz, masya Allah. Dia hafal Al-Qur`an saat SMA, umurnya hanya 2 tahun lebih tua dariku. Ya Allah... aku iri.. Yassir namanya. Aku pernah mendengar tentangnya. Yang ku tahu, dia orang hebat. Telah hafal Al-Qur`an setamat SMA, setelah itu dia lanjut ke Pesantren Ar-Royyah di Jawa. Di sana memantapkan bahasa Arab dan hafalan Qur`an-nya. Dia termasuk siswa jempolan di sana, menguasai qiro`ah sab`ah, dan sudah pernah naik haji atas biaya pesantren. Ramadhan kali ini, dia yang jadi imamnya di masjid kampungku. Bahagianya lagi, kakaknya menikah dengan saudariku. Jadinya hubungan kami jadi keluarga dekaaat sekali. Jadi di keluargaku yang sudah hafal Al-Quran 30 juz ada banyak: Ruqayyah, Ullah, Yassir. Nanti insya Allah menyusul Yusran, Firah, mungkin juga Kaltsum (semoga mereka diberi keteguhan hati oleh Allah). Ya Allah... aku kaaapaann??? Kapan giliranku?? Aku pun ingin, ya Rabb.. T.T 
Di Ramadhan kali ini aku banyak berdoa. Semoga Allah memudahkan diriku dalam menghafal kitab-Nya, memberiku karunia berupa hafalan Al-Qur`an 30 juz, menghiasi akhlakku dengan Al-Qur`an, dan kalau boleh, aku juga minta pada Allah semoga dia memberiku teman hidup yang cinta Al-Qur`an, hafal Al-Qur`an, dan dihiasi akhlaknya dengan Al-Qur`an. Ya Allah... aku memang tidak sempurna, aku memang punya banyak kekurangan, tapi ku tahu rahmat-Mu begitu luas.. ku mohon kabulkan doa-doaku, Ya Rabb...
Lebaran tahun ini istimewa. Setelah pernikahan Ruqayyah, jadinya kami bisa jalan-jalan ke Sinjai. Wuih... orang Gowa menikah dengan orang Sinjai, mantap euy!. Apalagi dua-duanya hafal Qur`an. Ya Allah... sungguh aku iri... aku pun ingin menjadi hafizhah, bukan sekedar gelar, tapi betul-betul menjadi seorang yang pribadinya dihiasi dengan cahaya Al-Qur`an. Ya Allah, ku mohon perteguh jiwaku dengan Al-Qur`an, kuatkan selalu kecintaanku pada Qur`an...
Oh ya, aku mau cerita niyh. Abis lebaran kemarin, kami langsung meluncur ke Sinjai. Termasuk Sang Imam, Yassir. Lho, koq dia ikut?. Ya iyalah, dia kan bagian dari keluarga kami. Kami satu mobil bareng-bareng ke Sinjai. Bapak, Mama, aku, Kaltsum, Zainab, Lathifah, Ahmad, Ruqayyah, Kak Ullah, dan Yassir. Bahagianya bisa bersama dengan mereka. Adik-adikku banyak bicara di mobil. Keberadaan mereka menjadikan suasana mobil tak pernah sepi. Ada saja celoteh mereka yang membuat suasana mobil jadi heboh. Eh, ternyata Yassir juga ikut-ikutan ketawa loh... ternyata seorang hafizh Al-Qur`an 30 juz juga bisa tertawa.. hehe.. hadouh.. mereka kan juga manusia. Iki piye toh.. tapi tetap aja mereka kalem. Para hafizh dan hafizhah itu: kak Ullah, Ruqayyah, dan Yassir. Sungguh aku iri pada mereka. Iriiii sekaaliii...!!!.
Sampai di Sinjai, kami salam-salaman, trus makan-makan, tidak lupa jalan-jalan. Saat baru tiba, ku lihat Yassir mencium tangan ibunya dengan takzim, lalu mencium kening ibunya. Suasana pertemuan seorang ibu dengan putranya yang jauh dari rantau, yang telah menghabiskan 4 tahun di pulau seberang demi menuntut ilmu Al-qur`an, putera yang telah lama dirindukan. Duhh... hatiku langsung luluh melihat situasi ini. Rasanya ingin menangis... aku kagum dengan keluarga ini. Keluarga yang telah melahirkan generasi-generasi Qur`ani. Sulit menemukan keluarga yang seperti ini. Keluarga dengan putera-puteri yang hafal A-Qur`an. Entah bagaimana Ayah dan ibu mereka mendidik anak-anaknya. Jelas peran orangtua sangat penting di sini. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Pak Massiara dan isterinya betul-betul pendidik yang berhasil, masya Allah. Sangat wajar orangtua yang hebat melahirkan generasi-generasi luar biasa seperti Kak Ullah, Yassir, Kak Ana, dan saudara-saudaranya. Kerendahan hati mereka semakin membuatku kagum, membuatku merasa malu pada diriku sendiri. Kami bercerita tentang kejuaraan-kejuaraan tingkat nasional yang pernah mereka ikuti. Musabaqah di berbagai kota telah mereka taklukkan. Tak tampak sama sekali keangkuhan di wajah-wajah mereka. Yang ada hanyalah ketenangan dan ketawadhu`an (kerendahan hati). Mendengar kisah-kisah mereka membuatku merasa semakin tak ada apa-apanya. Kejuaraan MTQ yang pernah ku menangi di tingkat kabupaten, jauh tak sebanding dengan Kak Ullah bersaudara yang sudah sering menang di tingkat nasional. Tambah lagi mereka tak pernah berbangga diri. Hal ini terlihat saat kedatangan kami disambut hangat di Sinjai. Aku sangat bersyukur Ruqayyah menikah dengan Kak Ullah. Aku jadi bisa selalu dekat dengan orang-orang hebat seperti mereka, para generasi Qur`ani itu. meski kadang aku malu pada diriku sendiri, sudah cukup rasanya bagiku bisa dekat dengan mereka, belajar banyak dari kehidupan mereka. Aku akan terus belajar. Thanks, God...
***

Kemarin, ku utarakan niatku pada Ruqayyah, mama, dan bapak.
“Lulus dari Analis Poltekkes, aku mau masuk pondok Tahfidzul Qur`an.”.
Ku kira mereka akan mendukungku. Lha, ternyata ketiga-tiganya kompak tidak setuju. Kak Ullah juga, katanya khawatir nanti aku melupakan ilmu-ilmu yang telah ku pelajari di Poltekkes. Kata bapak lagi, aku tetap bisa menghafal di luar. Yaah,, kan beda. Haddouuh... aku bingung, ya Allah. Ku mohon mudahkan aku. Terangi hatiku dengan Al-Qur`an, ku mohon...




Selasa, 07 Agustus 2012

_


Semua yang ada pada makhluk, ada pada-Nya. Masihkah kau berharap pada selain-Nya?

Rabu, 13 Juni 2012

Hidup Harus Menerima dengan Penerimaan yang Indah


Saat merapikan buku-buku, tak sengaja kutemukan buku bersampul biru itu; buku harianku. Ku buka lembar demi lembar. Mataku berhenti di sebuah tulisan. Tulisan yang kutulis dua tahun lalu, saat aku kelas tiga SMA. Waktu itu umurku tujuh belas tahun.
“Assalamu`alaikum, tidaklah seorang diuji melebihi batas kemampuannya.. kamu harus berjuang dan berusaha keras mendapatkan kebaikan yang kamu inginkan.. keraguan itu datangnya dari syaithan yang menjauhkan manusia dari kebaikan.. ikutilah hati nuranimu, mudah-mudahan Allah selalu memberkahi dan memudahkan jalanmu. Amin.”
Sebuah pesan dari seorang seniorku di SMA. Di bawah tulisan itu ku tulis namanya dengan terang. Salah satu motivatorku. Saat itu ia tengah belajar di Institut Teknologi Telkom, Bandung. Sekarang.. sepertinya dia sebentar lagi lulus. Setelah itu mungkin akan langsung lanjut S2. Good Luck, Senior..
 Ku temukan pula tulisan lain di bukuku;
Assalamualaikum. Fatimah, besok ikutko Grafik?. Ahkam
Grafik, lupa apa kepanjangannya. Semacam lomba matematika begitu. Huwaaa.... ku ingat lagi kenangan-kenangan itu.. Kenangan yang sangaaaaat menyenangkan!. Selama sekolah di SMABA, moment paling menyenangkan adalah ikut lomba bareng teman-teman. Berpacu, saling berebut untuk berada di daftar teratas peserta yang lolos ke babak selanjutnya. Huhuhu... aku rindu mereka. Rindu kak Nurul, kak Rachma, kak Husnul, kak Ahkam, juga partnerku si Anno. Entah bagaimana kabarnya mereka semua sekarang. Yang jelas, sedang berusaha menapaki tangga kesuksesan. Mereka semua adalah orang-orang dengan motivasi yang tinggi untuk sukses. Senang rasanya saat berada dekat dengan mereka. Aku rindu berkumpul bersama mereka, memecahkan soal-soal Matematika. Heran juga mengapa aku bisa terdampar ke klub itu, MATRICS. Mathematic Training Club of SMABA. Padahal sebenarnya otakku sering laloud (lambat louding) kalau ketemu soal Matematika loh! (hadouuh.. paayah!).
Untuk urusan ini, kak Husnul selalu membesar-besarkan hatiku agar tak putus asa. Dia sering mengatakan, “Fatimah itu memang kadang lama mengerti.. tapi kalau sudah mengertimi, lama sekali baru hilang towwa..”. dan setelah itu dia akan dengan sabar menjelaskan soal-soal yang kutanyakan padanya. 
Di antara teman-teman, kak Husnul yang paling cerewet plus paling humoris. Ada-ada saja tingkah ataupun ucapannya yang bisa membuat kami tertawa. Mungkin begitu yah memang karakternya anak kedua. Hidup tanpa beban.. J. Selain cerewet, dia juga yang paling “rakus”. Entah itu rakus sama soal-soal, ataupun rakus saat makan. Kalau makan selalu yang paling cepat!. Pantasan tuh kak Husnul selalu ceria.. energinya selalu full!. Hehehe... Kalau kak Husnul sih sahabat Matematika-ku sejak SMP. Dia itu kalo cerita selalu semangat. Bahkan dulu (waktu SMP) sering nakandatto` poeng kepalaku.. addeeh.. Mentang-mentang dia lebih tinggi.. seenaknya aja main kandatto`-kandatto`. Sayangnya saat itu aku tak pernah bisa membalas kecuali dengan kalimat protes sambil alis berkerut-kerut, soalnya kepalanya sulit dijangkau.
Aku terus membaca. Kutemukan pesan lain:
Jangan pernah memikirkan kesempatan kedua kalo bisa meraih yang pertama. Kalo bisa janganmako fikir jurusan lain selain kedokteran. Harus fokus sama tujuan utama.. waktu yang kita butuhkan lebih banyak dari waktu yang tersedia, Fatimah.
Kedokteran? Yah, itu salah satu impianku dulu. Tapi hidup harus menerima, dengan penerimaan yang indah. Termasuk untuk mimpi yang tak tercapai. Sekarang, waktunya menatap ke depan. Merajut kembali mimpi yang sempat rubuh. Untuk hidup yang lebih baik.. optimislah, Fatimah!.
Aku masih terus membaca. Bertemu pesan yang bagiku sangat bermakna, karena betul-betul menyentuh relung jiwaku.
“Sebenarnya, dulu waktu smp mauka masuk ITB, tapi waktu kelas 1 SMA kak syamsul luluski di ITT, jadi kutanya2mi, ternyata bagus jugaji di ITT, jadi ITT oriented gaya belajarku.. Sebenarnya kalo cita2 fatimah i2 berubah2,, cobako waktu kecil ditanya cita2mu mau jadi apa, mungkin bukan jadi dokter, tapi setelah dewasa, tau banyak hal akhirnya mau skaliko jadi dokter,, sebenarnya cita2mu itu bukan dokter,, tapi apa yang melatarbelakangi fatimah mau jadi dokter itu sebenarnya cita2 fatimah,, jadi jangan sampai karna tidak jadi dokter fatimah lupa sama tujuan fatimah,, mungkin tujuan fatimah "ingin membantu sesama" bisa dicapai dengan berbagai cara, bukan hanya jadi dokter,, dan ingat selalu Allah,,
Allah punya cara yang indah untuk membuat hamba2nya terseyum bahagia,, kalo cita2 fatimah belum sama dengan yang diinginkan Allah, maka la tahzan, innallaha ma'anaa.. Nanti kuceritakan seniorku yang ditolak di kedokteran (bukan karna tidak lulus loh..) karna buta warna dan beliau jadi apa sekarang..
Note : sbnarnya cita2ku bukan ITT,, tapi saya mau ikut lomba tingkat internasional,, jadi mencoba menuntut ilmu di jawa,, sekarang lagi berusaha mencari jalan,, insya Allah...”. 
Yaa Rabb.. Engkau yang mengetahui seluruh mimpiku. Engkau yang pada-Mu ku gantungkan seluruh harapku. Ku tahu Engkau tak pernah mengecewakanku. Tak akan pernah. You are always The Best for me.


Jumat, 01 Juni 2012

Aku Tidak Bangga Diri, Sayang... Sama Sekali Tidak.


Menyusuri sepanjang jalan Banta-bantaeng, tertunduk. Merenung. 
Aku baru saja menerima pesan dari seorang yang ku sebut sebagai sahabat. Awalnya aku hanya ingin berbagi kesan dengannya. Ku katakan padanya, “Yang paling bikin aku semangat belajar itu cuman hadiah dari Bapak. Ituji”. Maksudnya, janji-janji dan hadiah dari ayahku-lah yang paling membuatku semangat untuk belajar. Hadiah-hadiah itulah yang paling berperan memacu semangat belajarku. Mengalahkan penat, berpacu dengan waktu. Tiap kali aku meraih suatu prestasi di sekolah, dia selalu memberiku hadiah. Kebiasaan ini masih juga ia teruskan saat aku di perguruan tinggi. Hadiah yang bagiku cukup besar, begitu berharga karena ku dapat dengan penuh susah payah.
“Belakanganpi ku sadari banyak sekali keberuntungan yang ku dapat setelahnya”, ini isi pesan yang juga ku sampaikan pada sahabatku. Tak lama kemudian datang balasan darinya, “Ketika seseorang menceritakan prestasi-prestasinya dengan terlalu bersemangat, dengan nada sombong dan penuh keyakinan, hal tersebut malah jadi meMUAKkan. #someone tidak perlu menyebut prestasi-prestasi yang kita peroleh, cukup diam, dan biarkan prestasi-prestasi itu yang berbicara”.
Engkau benar, wahai Sahabatku. Mungkin aku sudah terlalu jauh melambung ke awan. Boleh jadi aku akan bangga diri dengan segala prestasi yang telah ku raih. Dengan beasiswa itu, dengan nilai-nilai yang selalu A, dengan indeks prestasi yang gemilang itu. Boleh jadi itu memang benar. Padahal kullu man `alaihaa faan. Semuanya fana, semua akan musnah tak tersisa. Terima kasih telah membuka lebar mataku akan tipu daya syaithan yang sangat licik itu. syaithan begitu pintar, ia hendak menggelincirkanku dari bersyukur kepada Allah, ia terus berusaha menelusupkan kerusakan-kerusakan ke dalam hatiku. Aku beruntung karena Allah mengirimkan seorang penolong bagiku, yaitu dirimu. Terima kasih telah membantuku untuk bangkit dari kemungkinan untuk terperosok ke dalam jurang yang begitu dalam, lembah kenistaan. Inilah alasan mengapa aku memilihmu menjadi satu di antara sahabatku.
Tapi perlu engkau ketahui tidak ada maksudku untuk menyombongkan diri saat menceritakannya. Aku hanya sedang sangat bahagia kala itu. Daripada aku senyum-senyum sendiri (nanti dikira orang gila lagi!), lebih baik aku ceritakan pada orang-orang terdekatku. Ya, pada orang-orang terdekat saja. Pada ayah, pada ibu, pada adikku, dan juga padamu, sahabatku. Mengapa hanya pada kalian? Karena aku percaya. Berbagi dengan orang-orang yang tepat pasti akan menggapai manfaat yang besar. Lihat, hanya pada kalian. Tidak pada sembarang orang kan?. Karena aku tahu bahwa perkara hati itu sangat halus, mudah berubah, dan sulit ditebak. Sombong? Semoga tidak pernah, sayang.. Karena aku ingat pesan-Nya, “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong” dan “Sungguh tidak akan masuk Syurga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski hanya seberat dzarrah”. Bangga diri? Semoga juga tidak pernah. Karena di atas langit masih ada langit. Tidak ada yang patut di banggakan dari diri ini.
Terima kasih untuk nasihatmu yang begitu berharga, wahai Sahabatku..



***

“Ketika seseorang menceritakan prestasi-prestasinya dengan terlalu bersemangat, dengan nada sombong, dan penuh keyakinan, hal tersebut malah jadi meMUAKkan. #someone tidak perlu menyebut prestasi-prestasi yang kita peroleh, cukup diam, dan biarkan prestasi-prestasi itu yang berbicara. ”
Ketika membaca pesan ini, aku tercengang. Sister, kamu menyindirku?. Butuh waktu lama memilih kata yang tepat untuk hingga akhirnya ku balas, “Haik, arigatou”.
Dan lebih lama lagi waktu yang ku butuhkan untuk merenungi makna dari pesan itu. Teringat semua kejadian yang telah lampau. Mengingat semua kesalahan yang telah ku lakukan. Dan memang, manusia tak selamanya selalu benar.
Ku putuskan untuk bertanya lagi padanya, “Yang mana dari tulisanku yang ada nada-nada ujub dan kesombongannya, Sista?”.
Cepat dia balas, “Jangan salah paham, bukan itu...”.
Ku balas lagi, “Tapi ku suka ji pesannya koq...”. padahal sebenarnya, addeuh... rasanya nano-nano!.
Jeongmal mianhae. Tadi itu toh bukaka web-nya suatu Universitas Ternama –Tak perlu saya sebut namanya- trus ada postingan tentang mahasiswanya yang identik dengan high quality-nya dan karena itu banyak yang ujub jadi ada orang yang coba kritisi atau bahasa halusnya bikin sadarlah... trus ketemu sama kata-kata itu dan aku coba send ke kamu, jadi ndak adaji hubungannya dengan postingan di blogmu..”
“Hohoho... :D Sempatka` muhasabah tadi.”
“Lagian.. Terlalu peka”.
Rasanya langsung plong.. Fiuuh... Bincang-bincang berlanjut hangat. 

Senin, 28 Mei 2012

Hidup Harus Berlanjut, Bagaimanapun Keadaan Kita


HIDUP HARUS BERLANJUT. BAGAIMANAPUN KEADAAN KITA.

          Aku tak tahu akan ke mana diriku ini. Apakah aku akan lanjut S1 di Jawa agar mudah ikut tes ke Jepang (belakangan aku tahu ada kantor konsulat Jepang di Makassar, alhamdulillah ^_^). Kalau dapat beasiswa, aku tak perlu susah-susah lagi memikirkan biaya kuliah yang memang memusingkan. Aku ingin mencari beasiswa full. Karena aku sadar bagaimana perekonomian keluargaku. Aku tahu persis begitu sulit bagi ayah untuk membiayai kami semua, enam bersaudara. Termasuk membiayai kuliahku. Satu-satunya jalan; aku harus berjuang!. Berjuang dari sekarang!. Belajar keras agar nilai-nilai kuliahku selalu sempurna. Berharap nanti kampus akan mempertimbangkan beasiswa lagi untukku. Itu tidak mustahil. Semua masih bisa terjadi. Setelah itu aku ingin lanjut S2 di Jepang. Bolehkah?. Hmm... aku belum punya mahram yang bisa menemaniku di sana. Lagipula satu cita-citaku belum tercapai. Aku belum hafal Al-Qur`an... L
          Semua manusia akan mati. Setelah dibangkitkan nanti, siapa yang akan menolongku?. Tidak ada lagi keluarga ataupun teman-teman. Semua sibuk dengan urusan masing-masing (nafsi-nafsi!). Tidak juga harta, jabatan, atau gelar-gelar yang susah-payah ku raih. Karena itu, aku ingin hafal Al-Qur`an. Aku ingin selalu dekat dengan Al-Qur`an. Aku ingin menjadi sahabat karibnya. Karena ku tahu, hanya itu satu-satunya yang mungkin bisa jadi penolong untukku di akhirat kelak.
          Aku ingin jika saat itu tiba (saat di mana tak ada pertolongan dari makhluk manapun), Al-Qur`an lalu datang memberikan syafaat (pembelaanya) untukku. Dan pembelaanya tak akan ditolak...
          Ya Rabb... bantu aku... bantu aku agar bisa selalu dekat dengan kitab-Mu... juga tolong aku agar terhindar dari riya` dan segala yang merusak... Tiada daya dan kekuatan kecuali dari-Mu.
***
Aku yakin aku mampu!.
Aku yakin aku bisa ke Jepang jika aku bersungguh-sungguh dari detik ini!. (Aku heran juga sih kok aku bisa segitu ngototnya. Sebenarnya apa yang ku cari di sana?. Entahlah, suka saja dengan alam-nya, dengan bunga Sakura-nya, dengan musim-musimnya, dengan kedisiplinan, ketertiban, kebersihan, dan keteraturannya. Pokoknya aku suka!. Sukaa sekaalii...!. J Aku ingin merasakan hidup setahun-dua tahun di negeri itu. Menimba ilmu. Berdakwah juga kalo bisa. Tapi tentu saja tidak sendirian. Never mind... Where there is a will, there is a way. Right?.
Aku yakin aku bisa jadi graduated student!.
Aku yakin aku mampu menghafal Al-Qur`an!.
Aku harus bersungguh-sungguh. Mulai detik ini.

Far edisi curhat
Ahad, 27 Mei 2012