Sabtu, 24 Maret 2012

IDENTIFIKASI KLEBSIELLA

Pengertian
      Klebsiella adalah sebuah genus no yang dapat mengubah tempat, gram negative  bentuk batang, bakteri dengan terkemuka polis akan berbaris kapsul. Frequent manusia pathogen organisme yang menyebabkan berbagai penyakit terutama pneumonia, ISK, keracunan darah, spondilihs dan jaringan lunak infeksi.
Klebsiella pneumonia pertama kali ditemukan oleh Carl Friedlander. Carl Friedlander adalah patologis dan mikrobiologis dari Jerman yang membantu penemuan bakteri penyebab pneumonia pada tahun 1882. Carl Friedlander adalah orang yang pertama kali mengidentifikasi bakteri Klebsiella pneumonia dari paru-paru orang yang meninggal karena pneumonia. Karena jasanya, Klebsiella pneumonia sering pula disebut bakteri Friedlander.

Klasifikasi Klebsiella

Kingdom        :    Bacteria
Phylum           :    Proteobacteria
Class               :    Gamma Proteobacteria
Orde               :    Enterobacteriales
Family             :    Enterobacteriaceae
Genus              :    Klebsiella
Species            :    
Klebsiella pneumonia
                           Klebsiella ozaenae

Morfologi
1.      Bentuk batang, Gram negatif
2.      Ukuran 0,5 – 1,5 x 1 – 2 µ
3.      Mempunyai selubung yang lebarnya 2 – 3 x ukuran kuman
4.      Tidak berspora, tidak berflagela
5.      Menguraikan laktosa
6.      Membentuk kapsul baik invivo atau invitro, sehingga koloni berlendir (mukoid)
7.      Kapsul terdiri dari antigen K dan antigen M dapat menutupi antigen O, berdasarkan antigen ini ditemukan 70 tipe .







Epidemologi dan Jenis-jenis Klebsiella
Bakteri Klebsiella terdapat di mana-mana. Koloninya bisa ditemukan di kulit, kerongkongan, ataupun saluran pencernaan. Bahkan, bakteri ini juga bisa ada pada luka steril dan air kencing (urin). Sebenarnya, bakteri golongan ini mungkin saja ada sebagai flora alami ‘penghuni” usus besar dan kecil. Adapun pergerakan bakteri ini ke organ lain dikaitkan dengan lemahnya daya tahan penderita.
Klebsiella pneumonia merupakan jenis bakteri golongan Klebsiellae yang banyak menginfeksi manusia. Ia adalah kuman oportunis yang ditemukan pada lapisan mukosa mamalia, terutama paru-paru. Penyebarannya sangat cepat, terutama diantara orang-orang yang sedang terinfeksi bakteri-bakteri ini. Gejalanya berupa pendarahan dan penebalan lapisan mukosa organ. Bakteri ini juga merupakan salah satu bakteri yang menyebabkan penyakit bronchitis.
Klebsiella rhinoscleromatis dan KlebsieIla ozena adalah dua bakteri Klebsiella penyebab penyakit langka. Rhinoschleroma sendiri adalah penyakit peradangan serius yang terjadi pada rongga hidung. Sedangkan, ozaena adalah sejenis penyakit rhinitis atrofi.
Klebsiella pneumonia dapat menyebabkan penyakit karena mempunyai dua tipe antigen pada permukaan selnya:
1.      Antigen O
Antigen O adalah lipopolisakarida yang terdapat dalam sembilan varietas.
2.      Antigen K
Antigen K adalah polisakarida yang dikelilingi oleh kapsula dengan lebih dari 80 varietas.
Kedua antigen ini meningkatkan patogenitas Klebsiella pneumonia.
Selain itu, Klebsiella pneumonia mampu memproduksi enzim ESBL (Extended Spektrum Beta Lactamase) yang dapat melumpuhkan kerja berbagai jenis antibiotik. Hal ini dapat menyebabkan bakteri kebal dan menjadi sulit dilumpuhkan.
Klebsiella pneumonia/Fridlander bacillus ditemukan di dalam hidung, flora normal usus dan akan patogen bila menderita penyakit lain (penyakit paru-paru yang kronis).
1.      Klebsiella ozaena penyebab penyakit azoena : mukosa hidung menjadi atrpopis progresif dan berlendir serta berbau amis
2.      Klebsiella rhinoscleromatis : penyebab penyakit rhinocleloma yaitu penyakit menahun berupa granula dengan tanda-tanda sclerosis dan hipertropi jaringan dan menyebabkan kerusakan hidung dan farings.
3.      Klebsiella aerogenes/Aerobacter aerogenes
Kuman ini mempunyai sifat sama dengan E. coli, terdapat di air, tanah, sampah dan lain sebagainya.
Dibedakan pada tes IMVic
E. coli                                : ++--
Klebsiella aerogenes          : --++

Patogenesitas
1.      Kapsul memiliki kemampuan untuk mempertahankan organisme terhadap fagositosis dan pembunuhan oleh serum normal.
2.      Galur yang berkapsul lebih virulen daripada galur yang tidak berkapsul (pada hewan coba)
3.      Tidak ada toksin selain endotoksin yang berperan pada infeksi oportunistik
4.      Galur klebsiella pneumonia ada yang memproduksi enterotoksin (pernah diisolasi dari penderita tropical sprue) toksin ini mirip dengan ST (tahan panas) dan LT (heat-labile enterotoksin) dari E.coli,kemampuan memproduksi toksin ini diperantarai oleh  plasmid

Daerah penyebaran dan Penyebaran penyakit
Jika bakteri Klebsiella pneumoniae dan Klebsiella oxytoca beserta penyakitnya tersebar luas di seluruh penjuru dunia, lain halnya dengan Klebsiella rhinoscleromatis. Bakteri penyebab penyakit rhinoschleroma ini tidak ada di Amerika Serikat. Ia hanya ada di Eropa timur, Asia selatan, Afrika tengah, dan Amerika latin. Hal ini terjadi karena bakteri Klebsiella pneumoniae dan Klebsiella oxytoca banyak terdapat di negara-negara miskin yang mempunyai lingkungan jelek.
Klebsiella termasuk pneumonia non pneumococcus sekitar 20% dari pneumonia bacterial bukan disebabkan pneumococcus, yaitu staphy, strepto, klebsiella dan patogenesisnya sama dengan yang disebabkan salmonella pneimoniae biasa timbul pada orang yang resistensinya telah menurun oleh salah satu sebab. Hal yang perlu diperhatikan dalam penularan infeksi pneumonia pneumococcus meliputi penularan infeksi termasuk di dalamnya adalah reservoar, sumber dan rute penularan, masa inkubasi, masa dapat menular.
a.       Reservoar sumber dan rute penularan
Manusia adalah reservornya organisme itu terdapat di dalam secret “carrier” asimtomatik dan pasien dengan infeksi aktif transmisi terjadi melalui kontak langsung dengan secret terinfeksi pada permukaan terinfeksi.
b.      Masa inkubasi
Tidak diketahui untuk infeksi endogen sangat singkat (1-2 hari) untuk infeksi ditularkan.
c.       Masa dapat menular
Agaknya selama pneumococus terdapat dalam jumlah besar dalam secret hidung dan mulut. Pengobatan cepat dengan kemoterapi sangat mengurangi jumlah dan memendekkan masa penularan (2-3 hari).
d.      Imunitas
Ketahanan non-spesifik jaringan sehat normal adalah mekanisme pertahanan utama bagi kebanyakan infeksi. Imunitas sesudah serangan bersifat spesifik jenis lamanya tergantung kadar antibodi yang dibentuk sebelum terapi antibiotik menghilangkan rangsangan antigen.

Penyakit dan gejala klinis
*      Ozaena yaitu radang selaput lendir hidung yang berbau. Pada penyakit ini orang banyak mengeluarkan lendir hijau bercampur darah yang berbau.
*      Rhinoscleroma yaitu berupa bisul-bisul (benjolan) dalam hidung yang makin lama makin banyak sehingga hidung kelihatan membengkak dan menjadi besar kemudian menjadi luka yang sukar sembuh.
*      Granuloma veneris yaitu suatu penyakit kelamin. Granuloma adalah tumor pada jaringan granulasi, terdapat berbagai bintik di daerah kelamin perempuan dan laki-laki yang makin lama makin banyak dan besar kemudian menjadi sukar sembuhnya, sehingga alat kelamin luar menjadi habis, penularan secara persetubuhan. Banyak terdapat di Irian, penyakit ini bukan radang saluran kemih tetapi suatu penyakit kulit, saluran kemih tidak terserang.
*      Klebsiella pneumonia, bakteri ini sering menimbulkan infeksi pada traktus urinarius karena nosocomial infection, meningitis, dan pneumonia pada penderita diabetes mellitus dan pecandu alkohol. Gejala yang ditimbulkan bakteri ini berupa gejala demam akut, malaise, dan batuk kering kemudian batuknya menjadi produktif dan menghasilkan sputum berdarah dan purulent. Bila penyakitnya berlanjut, akan terjadi abses nekrosis jaringan paruh broncjiectasidan vibrosis paru-paru.
*      Penyakit paru-paru mirip dengan pneumoni disebabkan oleh B. Fredlender (nama basil dengan memakai nama penemunya).
*      Menyebabkan pneumonia dan infeksi saluran kemih.
*      Vimlensi disebabkan oleh adanya sampai yang sangat besar.
*      Resisten terhadap penisilin Hp peka terhadap sefalosporin.
           Klebsiella menduduki ranking kedua setelah E.coli untuk infeksi saluran kemih di orang-orang yang sudah berumur. Klebsiella juga merupakan suatu opportunistic pathogen untuk pasien dengan penyakit paru-paru kronis dan rhinoscleroma.Feses adalah salah satu sumber yang paling signifikan dalam hal infeksi kepada pasien, yang selanjutnya diikuti oleh berhubungan dengan alat-alat yang sudah terkontaminasi oleh bakteri. Penyakit utama yang ditimbulkan oleh bakteri ini adalah pneumonia.
           Pneumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian cairan di dalam alveoli. Hal ini terjadi ini terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius adalah adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran.. Dengan demikian flora endogen menjadi pathogen ketika memasuki saluran pernafasan. Pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi "inflame" dan terisi oleh cairan. Pneumonia dapat disebabkan oleh beberapa penyebab, termasuk infeksi oleh bakteria, virus, jamur, atau parasit. Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau terlalu banyak minum alkohol. Pasien yang rentan mengalami pneumonia antara lain peminum alcohol, perokok, penderita diabetes, penderita gagal jantung, dan penderita AIDS.
           Pada penderita pneuminiae, kantong udara paru-paru penuh dengan nanah dan cairan yang lainnya. Dengan demikian, fungsi paru-paru, yaitu menyerap udara bersih (oksigen) dan mengeluarkan udara kotor menjadi terganggu. Akibatnya, tubuh menderita kekurangan oksigen dengan segala konsekuensinya, misalnya menjadi lebih mudah terinfeksi oleh bakteri lain (super infeksi) dan sebagainya. Jika demikian keadaannya, tentu tambah sukar penyembuhannya. Penyebab penyakit pada kondisi demikian sudah beraneka macam dan bisa terjadi infeksi yang seluruh tubuh.

Gejala-gejala seseorang yang terinfeksi Klebsiella
Pada umumnya, gejala-gejala penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri golongan Klebsiellae adalah sama. Akan tetapi, setiap penyakit berdasarkan jenis spesies Klebsiella-nya masing-masing punya ciri khas.
Klebsiella pneumoniae yang menyebabkan penyakit paru-paru memberikan penampakan berupa pembengkakan paru-paru sehingga lobus kiri dan kanan paru-paru menjadi tidak sama; demam (panas-dingin); batuk-batuk (bronkhitis); penebalan dinding mukosa; dan dahak berdarah. Sedangkan, Klebsiella rhinoscleromatis dan Klebsiella ozaenae yang menyebabkan rinoschleroma dan ozaena memberikan gejala pembentukan granul (bintik-bintik), gangguan hidung, benjolan-benjolan di rongga pernapasan (terutama hidung), sakit kepala, serta ingus hijau dan berbau.
Gejala-gejala seseorang yang terinfeksi Klebsiella pneumonia adalah napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pneumonia Berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga Pneumonia sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pnemonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam, batuk-batuk, perubahan karakteristik dahak, suhu tubuh lebih dari 38 º C. Gejala yang lain, yaitu apabila pada pemeriksaan fisik ditemukan suara napas bronkhial, bronkhi dan leukosit lebih dari 10.000 atau kurang dari 4500/uL.
Pada pasien usia lanjut atau pasien dengan respon imun rendah, gejala pneumonia tidak khas, yaitu berupa gejala non pernafasan seperti pusing, perburukan dari penyakit yang sudah ada sebelumnya dan pingsan. Biasanya frekuensi napas bertambah cepat dan jarang ditemukan demam. Beberapa jenis Klebsiella pneumonia dapat diobati dengan antibiotik, khususnya antibiotik yang mengandung cincin beta-laktam.
Contoh antibiotik tersebut adalah ampicillin, carbenicillin, amoxicilline, dll. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Klebsiella pneumonia memiliki sensitivitas 98,4% terhadap meropenem, 98,2% terhadap imipenem, 92,5% terhadap kloramfenikol, 80 % terhadap siprofloksasin, dan 2% terhadap ampisilin. Strain baru dari Klebsiella pneumoniakebal terhadap berbagai jenis antibiotik dan sampai sekarang masih dilakukan penelitian untuk menemukan obat yang tepat untuk menghambat aktivitas atau bahkan membunuh bakteri tersebut.

Diagnosa
Metode isolasi dan identifikasi organisme ini dari makanan, air dan sampel diare, didasarkan pada ketepatan media selektif yang digunakan dan hasil analisa mikrobiologi dan biokimia. Kemampuan untuk menghasilkan enterotoxin dapat ditentukan oleh analisa biakan sel dan analisa pasa hewan, metode serologis, atau analisa genetika. Sampel dapat berupa sputum, liquar cerebrospinalis atau urin. Diperiksa di bawah mikroskop setelah pewarnaan atau ditanam pada pembenihan.
1.      Melihat selaput, maka diambil bahan pemeriksaan dari manusia, binatang dan perbenihan.
2.      Selaput ini terlihat seperti lendir, maka koloni – koloni terlihat basah dan berlendir.
3.      Pneumococcus karena ada atau tidak mempunyai selubung/kapsul.

Kerangka Operasional
                                                                        Sampel                     Pewarnaan Gram

     BHIB
 

                       Mac Conkey                              BAP
Inkubasi selama 24 jam suhu 37o C
                                                         BAP              Pewarnaan Gram dan kapsul                

                                                         TSIA                     inkubasi 24 jam 37o C
                                                        
          
                            Biokimia                                                                   IMViC             
     
     Gula-gula                Urea                     SIM       MR        VP     SCA
 

       Glu   Man      Suk       Mal      Lak
                                             Diinkubasikan selama 24 jam pada suhu 37OC

Proses Identifikasi
2.11.1 Kultur media pemupuk
          Specimen ditanam pada media Brain Hearth Infusion Broth (BHIB), replikasi bakteri saluran dari usus normal dan meningkatkan bakteri  Klebsiella . Sesudah inkubasi 18-24 jam, ditanam pada media differensial dan selektif.

2.11.2    Kultur media umum dan differensial
          Media umum adalah media BAP (Blood Agar Plate) yang dipakai untuk mengidentifikasi kemampuan bakteri dalam melisiskan sel-sel darah yang terdapat dalam media ini dapat berupa zona lisis α(alfa), β(betha), dan γ(gamma). Bakteri Klebsiella, tumbuh sebagai koloni yang berwarna abu-abu, smooth, cembung, mucoid atau tidak  dan tidak melisiskan darah pada media BAP.

          Media differensial adalah media yang dipakai untuk identifikasi bakteri berdasarkan dipakai untuk identifikasi bakteri berdasarkan sifat-sifat biokimia khusus dari bakteri yang bersangkutan. Media yang dipakai untuk perbenihan bakteri adalah Mac Conkey, media ini mengandung laktosa dan merah netral sebagai indikator, sehingga bakteri yang meragikan laktosa akan tubuh sebagai koloni berwarna merah yang dapat membedakan dari bakteri yang tidak meragikan laktosa yang tumbuh sebagai bakteri yang tidak berwarna. Klebsiella tumbuh sebagai koloni yang berwarna merah muda namun tidak dapat meragikan laktosa secara sempurna.
          Ciri-ciri koloni pada media Mac Conkey besar-besar, smooth, mucoid, cembung, berwarna merah muda-merah bata. Jika diambil dengan ose, maka akan tertarik karena pada koloni memiliki kapsul

2.11.3    Identifikasi akhir
          Koloni dari media padat diidentifikasi oleh bentuk reaksi biokimia dan tes aglutinasi mikroskop dengans serum spesifik. (jawetz, et al, 2001). Media yang digunakan untuk reaksi biokimia adalah (Gani A, 2003) :
1.  Triple Sugar Iron agar (TSIA)
            Media ini terdiri dari 0,1 % glukosa, 1 % sukrosa, 1 % laktosa, fernik sulfat untuk pendeteksian produksi H2S, protein, dan indicator Phenol red. Klebsiella bersifat alkali acid, alkali terbentuk karena adanya proses oksidasi dekarboksilasi protein membentuk amina yang bersifat alkali denga adanya phenol red maka terbentuk warna merah, Klebsiella memfermentasi glukosa yang bersifat asam sehingga terbentuk warna kuning (Jawtz, et al, 2001).
2.      Sulfur Indol Motility (SIM)
            Media SIM adalah perbenihan semi solid yang dapat digunakan untuk mengetahui pembentukan H2S, indol dan motility dari bakteri. Hampir semua bakteri Klebsiella membentuk indol kecuali tipe pneumonia dan ozaenae. Motility negatif sesuai dengan morfologi Klebsiella yang tidak memiliki flagella. sedangkan pembentukan H2S  juga tak terlihat pada semua jenis Klebsiella
3.  Citrate
            Bakteri yang memanfaatkan sitrat sebagai sumber karbon akan menghasilkan natrium karbonat yang bersifat alkali, dengan adanya indicator brom tymol blue menyebabkan terjadinya warna biru. Pada bakteri Klebsiella, hanya jenis rhinos yang tidak memanfaatkan sitrat, sehingga pada penanaman media sitrat hasilnya negative. Sedangkan spesies Klebsiella lainnya seperti pneumonia, oxytoca, dan ozaenae  menunjukkan hasil positif pada media ini.
4.  Urea
            Bakteri tertentu dapat menghidolisis urea dan membentuk ammonia dengan terbentunya wana merah karena adanya indicator phenol red, Klebsiella pada media urea memiliki pertumbuhan yang lambat memberikan hasil positif pada pneumonia, oxytoca atau bisa  juga ozaenae karena Klebsiella juga ada beberapa yang mampu  menghidrolisis urea dan  membentuk ammonia.
5.  Methyl red
            Media ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dari beberapa bakteri yang memproduksi asam kuat sebagai hasil fermentasi dari glukosa dalam media ini, yang dapat ditunjukkan dengan penambahan larutan methyl red. Hampir semua Klebsiella sp memproduksi asam yang kuat sehingga pada penambahan larutan methyl red terbentuk warna merah, kecuali pada pneumonia dan oxytoca yang juga dapat memberikan hasil negatif
6.  Voges Proskauer
            Bakteri tertentu dapat memproduksi acetyl metyl carbinol dari ferentasi glukosa yang dapat diketahui dengan penambahan larutan voges proskauer, Klebsiella ozaenae dan rhinos tidak memproduksi acetyl methyl carbinol sehingga penanaman pada media ini meberikan hasil negative, berbeda dengan jenis pneumonia dan oxytoca yang mampu memberikan hasil positif pada media ini.
7.  Fermentasi Karbohidrat
            Media ini berfungsi untuk melihat kemampuan bakteri memfermentasikan jenis karbohidrat, jika terjadi fermentasi maka media terlihat berwarna kuning karena perubahan pH menjadi asam. Klebsiella sp memfermentasi glukosa, maltose sedangkan sukrosa tidak difermentasikan pada jenis rhinos atau bisa juga ozaenae.

Patologi rhinoskleroma
Rinoskleroma terbagi menjadi tiga stadium, yaitu stadium I, II, dan III. Pada stadium I, gejala-gelaja yang dirasakan penderita tidak khas, seperti rinitis biasa. Dimulai dengan keluarnya cairan hidung encer, sakit kepala, sumbatan hidung yang berkepanjangan, kemudian diikuti dengan pengeluaran cairan mukopurulen berbau busuk yang dapat mengakibatkan gangguan penciuman.
Stadium II ditandai dengan hilangnya gejala rinitis. Pada stadium ini terjadi pertumbuhan yang disebut nodular submucous infiltration di mukosa hidung yang tampak sebagai bintil di permukaan hidung. Lama-lama, bintil ini bergabung menjadi satu massa bintil yang sangat besar, mudah berdarah, kemerahan, tertutup mukosa dengan konsistensi padat seperti tulang rawan. Kemudian membesar ke arah posterior (belakang) maupun ke depan (anterior). Sedangkan pada stadium III, massa secara perlahan-lahan membentuk struktur jaringan lunak. Jaringan ini bisa menyempitkan jalan napas. Proses yang sama seperti di hidung dapat juga terjadi pada mulut, tenggorokan, dan paru-paru.
Pencegahan
         Peningkatan derajat kesehatan dan daya tahan tubuh merupakan upaya pencegahan paling penting, karena bakteri ini sebenernya sudah ada sebagai flora normal pada orang sehat. Pencegahan nosocomial infection dilakukan dengan cara kerja yang aseptic pada perawatan pasien di rumah sakit. Enterobacteria peka terhadap panas dan dapat dibunuh dengan pemanasan yang merata (di atas 700C). Sumber utama infeksi bakter ini adalah makanan mentah, makanan yang kurang matang dan kontaminasi silang, yaitu apabila makanan sudah dimasak bersentuhan dengan bahan mentah atau peralatan yang terkontaminasi misalnya alas pemotong. Karena itu, pemanasan dengan benar dan penanganan makanan secara higienis dapat mencegah enterobacteria.
Pengobatan
Beberapa jenis Klebsiella pneumonia dapat diobati dengan antibiotik, khususnya antibiotik yang mengandung cincin beta-laktam.
Contoh antibiotik tersebut adalah ampicillin, carbenicillin, amoxiciline, dll. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Klebsiella pneumonia memiliki sensitivitas 98,4% terhadap meropenem, 98,2% terhadap imipenem, 92,5% terhadap kloramfenikol, 80 % terhadap siprofloksasin, dan 2% terhadap ampisilin. Strain baru dan Klebsiella pneumonia kebal terhadap berbagai jenis antibiotik dan sampai sekarang masih dilakukan penelitian untuk menemukan obat yang tepat untuk menghambat aktivitas atau bahkan membunuh bakteri tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar